Prosesi rangkaian dan ‘demam’ pemilu AS yang berlangsung sejak awal 2007 mendapat perhatian luas dibandingkan kejadian-kejadian politik di dunia. Berbagai peristiwa politik, seperti konflik Pakistan, kerusuhan Kenya, dan hingar-bingar UNFCCC di Bali hanya diberitakan sesaat dan temporer oleh media. Sementara perdebatan kandidat, posisi polling, dan pertarungan isu mendapat porsi yang demikian luas sepanjang tahun dan akan terus berlanjut.
Majalah Economist edisi 12 Januari 2008 juga menganggap pemilu tahun 2008 sebagai pemilu paling ketat dalam sejarah AS sejak tahun 1928[1]. Lebih dari itu, pemilu 2008 juga menjadi ukuran yang jelas mengenai apa yang dikehendaki oleh rakyat AS akan masa depan bangsanya.
Wajar jika pemberitaan pesta demokrasi di AS begitu mendapat sorotan dari masyarakat internasional. Sebagai satu-satunya kekuatan (unipolar) pasca berakhirnya perang dingin, posisi AS dalam percaturan dunia tidak tertandingi. CPF Luhulima[2] menyebutkan bahwa saat ini tidak ada satu kekuatan pun yang mampu melakukan politik encirclement terhadap Amerika Serikat. Maka itu, dinamika politik domestik AS akan mencerminkan pula konstelasi politik global. Menarik untuk melihat siapa yang berpeluang menjadi presiden AS dan bagaimana Indonesia bisa menghitung kepentingan dari berbagai kemungkinan presiden terpilih.
I. Selayang Pandang Pemilu 2008
Sekitar delapan kandidat dari masing-masing Partai Demokrat dan Partai Republik masih terus bertahan dalam pencalonan sampai saat ini. Di antara calon-calon itu adalah :
Kandidat dari partai Demokrat :
1. Hillary Rodham Clinton (60 tahun) adalah Senator AS dari New York sejak tahun 2001 dan mantan first lady AS era presiden Bill Clinton.
2. John Edwards (54 tahun) adalah mantan Senator AS periode 1998-2005 dari North Carolina dan mantan kandidat wakil presiden mendampingi kandidat presiden John Kerry pada 2004
3. Mike Gravel (78 tahun) adalah mantan Senator AS periode 1969-1981 dari Alaska
4. Dennis Kucinich (62 tahun) adalah Representative US House of Representatives dari Ohio
5. Barrack Obama (46 tahun) adalah Senator AS dari Illinois
6. Bill Richardson (61 tahun) adalah Gubernur New Mexico
Kandidat dari Partai Republik :
1. Rudolph W Giulani (63 tahun) adalah mantan walikota New York City tahun 1998-2001
2. Mike Huckabee (52 tahun) adalah mantan gubernur Arkansas
3. Duncan Hunter (60 tahun) adalah Congressman dari California
4. John Mc Cain (71 tahun) adalah Senator AS dari Arizona
5. Ron Paul (72 tahun) adalah Representative US House of Representatives dari Texas
6. Mitt Romney (60 tahun) adalah pengusaha dan mantan Gubernur Massachusetts
7. Fred Thompson (65 tahun) adalah lawyer dan mantan Senator AS
Para kandidat menjalani perjalanan panjang untuk menuju kursi kepresidenan. Kandidat akan menjalani konvensi masing-masing partai untuk menjadi calon presiden dari partai bersangkutan. Konvensi diawali dengan pemilu awal pada masing-masing state dalam bentuk caucus dan primary.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Webster Dictionary, yang dimaksud dengan primary adalah pemilihan langsung para pemilih terhadap kandidat yang disukai. Hasil dari pemilihan ini menentukan jumlah delegasi dari masing-masing kandidat terpilih untuk ikut dalam konvensi nasional. Sementara caucus merupakan pertemuan di antara anggota partai di suatu tempat untuk diskusi, musyawarah, dan memilih delegasi yang mewakili suara mereka terhadap kandidat tertentu dalam konvensi nasional. Dalam kenyataannya dua jenis pemilihan ini memiliki derivasi dan kharakteristik yang kompleks baik antar states maupun antara kedua partai.
Pemilu awal ini diawali dengan caucus di Iowa pada 3 Januari 2008 dan diakhiri dengan primary pada 3 Juni 2008 di South Dakota dan New Mexico untuk Republik serta South Dakota dan Montana untuk Demokrat. Pada akhirnya, hasil pemilu dari masing-masing state akan dibahas dan ditetapkan pada konvensi nasional masing-masing partai yang akan diadakan pada 25 – 28 Agustus 2008 di Denver, Colorado untuk Partai Demokrat dan tanggal 1 – 4 September 2008 di Saint Paul, Minnesota untuk Partai Republik.
II. Rivalitas Demokrat
II.1 Membedah Visi
Pemenang pemilu awal dari partai demokrat dapat dipastikan tidak akan keluar dari tiga nominasi yang selama ini selalu mendominasi polling nasional di berbagai media, yaitu Hillary Clinton, Barrack Obama, dan John Erdwards. Hasil kaukus dan primary pun menunjukkan ketiga kandidat meraih hasil yang begitu jauh melampaui kandidat lain.
Untuk membedakan visi dan program ketiga kandidat, maka penulis bermaksud membedakannya dalam lima isu, yaitu :
1. Kebijakan ekonomi, pajak, dan perdagangan
2. Kesejahteraan sosial
3. Imigrasi
4. Kebijakan luar negeri
5. Homeland security
Kelima isu di atas memang tidak mungkin merangkum semua perdebatan dan kampanye yang berlangsung. Akan tetapi, kelima isu di atas adalah isu yang paling besar dan sering menjadi bahan perdebatan para kandidat, sehingga dapat dijadikan acuan untuk melakukan komparasi antar kandidat.
Adapun sikap para kandidat dari Partai Demokrat adalah :
1. Hillary Clinton
>meningkatkan insentif terhadap riset yang bisa menambah keunggulan teknologi produk AS
>penguatan kelompok menengah yg selama ini tidak mendapat subsidi & tidak memiliki penghasilan cukup
>perluasan jaminan kesehatan
>menjamin perlindungan anak
>perbaikan hak-hak wanita
>memperjelas prosedur naturalisasi imigran yang memenuhi syarat
>menghentikan perang Irak
>melawan pemanasan global
>membantu pendidikan di negara G-77
>melakukan isolasi thd Hammas
>meningkatkan kemampuan militer
>mencegah potensi terorisme sedini mungkin
Wajar jika pemberitaan pesta demokrasi di AS begitu mendapat sorotan dari masyarakat internasional. Sebagai satu-satunya kekuatan (unipolar) pasca berakhirnya perang dingin, posisi AS dalam percaturan dunia tidak tertandingi. CPF Luhulima[2] menyebutkan bahwa saat ini tidak ada satu kekuatan pun yang mampu melakukan politik encirclement terhadap Amerika Serikat. Maka itu, dinamika politik domestik AS akan mencerminkan pula konstelasi politik global. Menarik untuk melihat siapa yang berpeluang menjadi presiden AS dan bagaimana Indonesia bisa menghitung kepentingan dari berbagai kemungkinan presiden terpilih.
I. Selayang Pandang Pemilu 2008
Sekitar delapan kandidat dari masing-masing Partai Demokrat dan Partai Republik masih terus bertahan dalam pencalonan sampai saat ini. Di antara calon-calon itu adalah :
Kandidat dari partai Demokrat :
1. Hillary Rodham Clinton (60 tahun) adalah Senator AS dari New York sejak tahun 2001 dan mantan first lady AS era presiden Bill Clinton.
2. John Edwards (54 tahun) adalah mantan Senator AS periode 1998-2005 dari North Carolina dan mantan kandidat wakil presiden mendampingi kandidat presiden John Kerry pada 2004
3. Mike Gravel (78 tahun) adalah mantan Senator AS periode 1969-1981 dari Alaska
4. Dennis Kucinich (62 tahun) adalah Representative US House of Representatives dari Ohio
5. Barrack Obama (46 tahun) adalah Senator AS dari Illinois
6. Bill Richardson (61 tahun) adalah Gubernur New Mexico
Kandidat dari Partai Republik :
1. Rudolph W Giulani (63 tahun) adalah mantan walikota New York City tahun 1998-2001
2. Mike Huckabee (52 tahun) adalah mantan gubernur Arkansas
3. Duncan Hunter (60 tahun) adalah Congressman dari California
4. John Mc Cain (71 tahun) adalah Senator AS dari Arizona
5. Ron Paul (72 tahun) adalah Representative US House of Representatives dari Texas
6. Mitt Romney (60 tahun) adalah pengusaha dan mantan Gubernur Massachusetts
7. Fred Thompson (65 tahun) adalah lawyer dan mantan Senator AS
Para kandidat menjalani perjalanan panjang untuk menuju kursi kepresidenan. Kandidat akan menjalani konvensi masing-masing partai untuk menjadi calon presiden dari partai bersangkutan. Konvensi diawali dengan pemilu awal pada masing-masing state dalam bentuk caucus dan primary.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Webster Dictionary, yang dimaksud dengan primary adalah pemilihan langsung para pemilih terhadap kandidat yang disukai. Hasil dari pemilihan ini menentukan jumlah delegasi dari masing-masing kandidat terpilih untuk ikut dalam konvensi nasional. Sementara caucus merupakan pertemuan di antara anggota partai di suatu tempat untuk diskusi, musyawarah, dan memilih delegasi yang mewakili suara mereka terhadap kandidat tertentu dalam konvensi nasional. Dalam kenyataannya dua jenis pemilihan ini memiliki derivasi dan kharakteristik yang kompleks baik antar states maupun antara kedua partai.
Pemilu awal ini diawali dengan caucus di Iowa pada 3 Januari 2008 dan diakhiri dengan primary pada 3 Juni 2008 di South Dakota dan New Mexico untuk Republik serta South Dakota dan Montana untuk Demokrat. Pada akhirnya, hasil pemilu dari masing-masing state akan dibahas dan ditetapkan pada konvensi nasional masing-masing partai yang akan diadakan pada 25 – 28 Agustus 2008 di Denver, Colorado untuk Partai Demokrat dan tanggal 1 – 4 September 2008 di Saint Paul, Minnesota untuk Partai Republik.
II. Rivalitas Demokrat
II.1 Membedah Visi
Pemenang pemilu awal dari partai demokrat dapat dipastikan tidak akan keluar dari tiga nominasi yang selama ini selalu mendominasi polling nasional di berbagai media, yaitu Hillary Clinton, Barrack Obama, dan John Erdwards. Hasil kaukus dan primary pun menunjukkan ketiga kandidat meraih hasil yang begitu jauh melampaui kandidat lain.
Untuk membedakan visi dan program ketiga kandidat, maka penulis bermaksud membedakannya dalam lima isu, yaitu :
1. Kebijakan ekonomi, pajak, dan perdagangan
2. Kesejahteraan sosial
3. Imigrasi
4. Kebijakan luar negeri
5. Homeland security
Kelima isu di atas memang tidak mungkin merangkum semua perdebatan dan kampanye yang berlangsung. Akan tetapi, kelima isu di atas adalah isu yang paling besar dan sering menjadi bahan perdebatan para kandidat, sehingga dapat dijadikan acuan untuk melakukan komparasi antar kandidat.
Adapun sikap para kandidat dari Partai Demokrat adalah :
1. Hillary Clinton
>meningkatkan insentif terhadap riset yang bisa menambah keunggulan teknologi produk AS
>penguatan kelompok menengah yg selama ini tidak mendapat subsidi & tidak memiliki penghasilan cukup
>perluasan jaminan kesehatan
>menjamin perlindungan anak
>perbaikan hak-hak wanita
>memperjelas prosedur naturalisasi imigran yang memenuhi syarat
>menghentikan perang Irak
>melawan pemanasan global
>membantu pendidikan di negara G-77
>melakukan isolasi thd Hammas
>meningkatkan kemampuan militer
>mencegah potensi terorisme sedini mungkin
2. Barrack Obama
>Melindungi dan memperkuat small medium enterprises melalui pengurangan pajak
>memperbanyak kredit lunak
> Meningkatkan penghargaan terhadap HAM, utamanya dalam menghilangkan segragesi rasial dan diskriminasi
>meningkatkan kualitas dan keterjangkauan pendidikan
> menawarkan bantuan pembangunan kepada negara-negara tetangga, terutama negara di Amerika Tengah dan Selatan untuk menurunkan imigran illegal
>menghentikan perang Irak
>penutupan penjara Guantanamo
>solusi dua negara untuk Israel dan Palestina
>meningkatkan keterlibatan dalam NPT
>mengutamakan dialog dan kerjasama, termasuk dg Iran dan Syria
>mengembalikan peran AS dalam melawan pemanasan global, termasuk mengurangi 80 % emisi gas pada 2050
>tidak sependapat dengan tindakan yang berlebihan terhadap orang asing
> lebih memilih upaya yang berorientasi pada objek, misalnya menjaga kualitas air dari kemungkinan disebarkannya racun oleh teroris
>Melindungi dan memperkuat small medium enterprises melalui pengurangan pajak
>memperbanyak kredit lunak
> Meningkatkan penghargaan terhadap HAM, utamanya dalam menghilangkan segragesi rasial dan diskriminasi
>meningkatkan kualitas dan keterjangkauan pendidikan
> menawarkan bantuan pembangunan kepada negara-negara tetangga, terutama negara di Amerika Tengah dan Selatan untuk menurunkan imigran illegal
>menghentikan perang Irak
>penutupan penjara Guantanamo
>solusi dua negara untuk Israel dan Palestina
>meningkatkan keterlibatan dalam NPT
>mengutamakan dialog dan kerjasama, termasuk dg Iran dan Syria
>mengembalikan peran AS dalam melawan pemanasan global, termasuk mengurangi 80 % emisi gas pada 2050
>tidak sependapat dengan tindakan yang berlebihan terhadap orang asing
> lebih memilih upaya yang berorientasi pada objek, misalnya menjaga kualitas air dari kemungkinan disebarkannya racun oleh teroris
3.John Edwards
>menghilangkan kemiskinan dalam jangka waktu 30 tahun mendatang
> melindungi produk AS di antaranya dengan meningkatkan standar keamanan dan keselamatan barang impor
> meningkatkan upah wajib minimum
> membangun daerah pedesaan
> meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap imigran illegal.
>menegaskan kesamaan hak antara immigran legal dengan warga negara AS
> mengedepankan dialog dan kerjasama multilateral
>mendukung tindakan Israel memerangi Hammas
>meningkatkan pengamanan terhadap masuknya barang dan orang di bandara dan pelabuhan
II.2 Perubahan vs Pengalaman
Dari gambaran di atas terlihat bahwa ketiga kandidat Demokrat pada dasarnya memiliki keseragaman dalam isu penghentian segera perang Irak dan peningkatan peran AS dalam mengatasi global warming, dua hal yang tidak disebutkan oleh para kandidat dari Republik. Demikian juga dalam kebijakan dalam negeri, ketiganya sama-sama sepakat dengan perluasan asuransi kesehatan dan kebijakan ekonomi yang pro terhadap masyarakat menengah ke bawah.
Perdebatan dalam forum resmi maupun statemen di media massa lebih ke arah perdebatan yang miskin substantive dan lebih pada tarik ulur isu. Dalam minggu kedua Januari 2008, perdebatan Hillary dan Obama berkisar pada permainan opini publik tentang peryataan Hillary tentang perjuangan Marthin Luther King Jr dalam memperjuangkan anti diskrimasi[3]. Selain itu, perdebatan masih diramaikan dengan saling klaim antara dua hal, yaitu pengalaman dan perubahan.
>menghilangkan kemiskinan dalam jangka waktu 30 tahun mendatang
> melindungi produk AS di antaranya dengan meningkatkan standar keamanan dan keselamatan barang impor
> meningkatkan upah wajib minimum
> membangun daerah pedesaan
> meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap imigran illegal.
>menegaskan kesamaan hak antara immigran legal dengan warga negara AS
> mengedepankan dialog dan kerjasama multilateral
>mendukung tindakan Israel memerangi Hammas
>meningkatkan pengamanan terhadap masuknya barang dan orang di bandara dan pelabuhan
II.2 Perubahan vs Pengalaman
Dari gambaran di atas terlihat bahwa ketiga kandidat Demokrat pada dasarnya memiliki keseragaman dalam isu penghentian segera perang Irak dan peningkatan peran AS dalam mengatasi global warming, dua hal yang tidak disebutkan oleh para kandidat dari Republik. Demikian juga dalam kebijakan dalam negeri, ketiganya sama-sama sepakat dengan perluasan asuransi kesehatan dan kebijakan ekonomi yang pro terhadap masyarakat menengah ke bawah.
Perdebatan dalam forum resmi maupun statemen di media massa lebih ke arah perdebatan yang miskin substantive dan lebih pada tarik ulur isu. Dalam minggu kedua Januari 2008, perdebatan Hillary dan Obama berkisar pada permainan opini publik tentang peryataan Hillary tentang perjuangan Marthin Luther King Jr dalam memperjuangkan anti diskrimasi[3]. Selain itu, perdebatan masih diramaikan dengan saling klaim antara dua hal, yaitu pengalaman dan perubahan.
Pengalaman adalah ‘barang jualan’ Hillary. Sejak awal Hillary mengambil posisi berlawanan dengan kebijakan Bush dan berusaha menampilkan romantisme seperti pada waktu pemerintahan Bill Clinton. Dalam banyak kampanye, Hillary sering membandingkan kondisi resesi ekonomi saat ini dengan keberhasilan Bill meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebagai first lady, Hillary juga sering menceritakan jasanya dalam masalah HAM, kesetaraan gender, dan anti narkotika[4].
Pengalaman yang juga sering dikemukakan di depan publik adalah ketika menjadi Senator di mana dia menjadi inisiator maupun pendukung berbagai Act terkait dengan masalah jender, kesehatan, dan anak, serta keterlibatannya dalam Senate Armed Services Committee yang memungkinkannya memahami masalah kemanan dan pertahanan. Dengan profil dan isu yang dibawakan, maka Hillary berharap banyak pada suara dari kelompok wanita dan kelompok penghasilan di bawah $ 50.000 setahun yang simpati terhadap kebijakan Hillary yang pro terhadap middle class.
Sementara itu, ‘perubahan’ sering menjadi ‘alat dagang’ Obama. Visi perubahan politik AS menjadikan Obama mendapat dukungan luas dari publik. Bahkan, majalah People dan NewsWeek edisi Desember 2007 menobatkan Obama sebagai salah satu tokoh fenomenal dan paling berpengaruh tahun 2007. Obama adalah kandidat pertama yang mendengungkan perubahan melalui semboyannya “Change, We Can Believe”. Belakangan, Hillary dan Edwards pun turut serta mendengungkan “change”.
Muda, segar, dan enerjik adalah citra yang dibangun Obama sejak awal. Didukung dengan kemampuan orasinya yang dianggap menyamai JFK dan Marthin Luther King membuat Obama memiliki daya tarik yang luar biasa. Beruntung sekali Obama tidak pernah mengeksploitasi isu rasial dan tidak menonjolkan diri bahwa dia adalah orang Afro-America. Hal ini membuat dia mampu mendapat dukungan dari berbagai segmen, termasuk kaum kulit putih. Sebagai contoh, Obama menang secara fenomenal di Iowa dengan suara 38% di atas Edwards (30%) dan Clinton (29%), padahal hanya ada 4 % orang kulit hitam di Iowa[5].
Dalam visi politik dalam negerinya Obama menginginkan peran serta rakyat AS yang lebih signifikan dalam politik dan menolak keterlibatan lobbyist yang dianggap terlalu besar pengaruhnya dalam kebijakan politik AS. Dalam politik luar negeri, Obama menawarkan warna kebijakan yang lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi dan pemberian sanksi, bahkan terhadap berbagai kekuatan yang selama ini berseberangan dengan kepentingan AS, seperti Iran, Korea Utara, Kuba, dan Syria daripada pemberian sanksi. Dalam upaya menyelesaikan konflik Timur Tengah, terutama Palestina, Obama adalah satu-satunya kandidat yang menawarkan dialog dan kemerdekaan Palestina daripada calon lain yang lebih mengutamakan tindakan tegas tehadap Hammas.
Bagi banyak masyarakat AS Obama dapat menjadi simbol perlawanan terhadap Bush. Obama menawarkan alternatif yang diharapkan dapat memecah stagnansi atas ‘gagal’nya perlawanan terhadap Bush. Masyarakat AS yang khawatir dengan terpuruknya citra AS di mata negara lain sebagai akibat perang Irak, Afghanistan, tindakan yang berlebihan dalam melawan terorisme, dan penolakan terhadap Protokol Kyoto lebih cenderung memilih Obama. Keberanian Obama menawarkan dialog yang intensif dengan berbagai negara, adanya negara Palestina dan peningkatan peran AS dalam melawan kemiskinan global terasa lebih ‘berani’ dibanding Clinton dan Edwards.
Clinton memang mengampanyekan perubahan pula. Akan tetapi, Clinton juga menghadapi banyak pula resistensi rakyat AS yang tidak ingin 28 tahun dipimpin oleh dua dinasti, Clinton – Bush. Visi Obama yang dianggap berkeinginan mengubah wajah AS yang lebih ramah dan kontributif terhadap perkembangan dunia membuatnya banyak mendapat dukungan dari kelompok idealis, usia muda (di bawah 40 tahun) dan terpelajar yang bersikap kritis serta menyukai pemikiran alternatif[6].
Rivalitas Hillary dan Obama terkait pengalaman dan perubahan menarik perhatian publik. Hillary mengatakan bahwa Obama hanya bisa berbicara dan apa yang diinginkannya hanyalah mimpi. Obama kemudian menjawab hal itu dengan memaparkan apa saja capaian-capaiannya selama menjadi anggota Kongres. Demikian pula, Obama mengemukakan hasrat untuk menghadang Hillary dengan menonjolkan isu Hillary yang dianggap terlalu ambisius.
Dalam berbagai perdebatan dan kampanye Hillary seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dia adalah kandidat terbaik yang tidak mungkin disamai oleh kandidat lain. Hillary juga terlihat sangat ingin membuat sejarah sebagai presiden wanita pertama. Justru hal inilah yang menjadi bumerang karena sebagian masyarakat tidak menyukai kandidat yang terlalu ambisius.
II.3 Edwards, Setetes Peluang Tersisa
Rivalitas Hillary dan Obama tidak otomatis menutup peluang Edwards untuk menang. Edwards selalu konsisten mengikuti di belakang Hillary dan Obama. Edwards membuat kejutan dengan merebut peringkat kedua di kaukus Iowa dengan menggeser Hillary yang selalu unggul dalam polling. Sayangnya, momentum itu tidak berlanjut hingga Edwards tidak memperoleh suara signifikan di New Hampshire, Michigan, dan Nevada. Menarik untuk melihat probabilitas apakah Edwards mampu menjadi ‘kuda hitam’ dalam rivalitas Hillary-Obama.
Edwards relatif selalu tampil menawan dalam setiap debat. Berbeda dengan Hillary dan Obama yang lebih sering kampanye di kota-kota besar, Edwards lebih banyak berkampanye di kota-kota kecil. Menjelang kaukus Iowa, misalnya, Edwards hanya dua kali bertatap muka dengan pendukungnya di Des Moines. Tampaknya, Edwards bekerja keras merebut massa yang tidak begitu dipedulikan Hillary dan Obama.
Dalam perjalanan kampanye, Edwards merupakan fenomena menarik. Di satu sisi, Edwards mengaku berada di pihak Obama untuk melakukan perubahan dan melawan ambisi Hillary, tetapi di an. Edwards berusaha mengambil keuntungan dari rivalitas Obama-Hillary dengan harapan akan muncul wacana dari publik bahwa dialah kandidat alternatif yang masisi lain Edwards mengatakan bahwa visi Obama adalah mimpi yang sulit diwujudkmpu ‘meramu’ perubahan yang dibawa Obama dan pengalaman yang dibawa Hillary.
Jika Edwards tidak bisa memperbaiki posisinya sampai detik-detik menjelang Super Tuesday di sekitar 20 states, maka berat baginya untuk bisa menjadi calon presiden dari Demokrat. South Carolina adalah harapan terakhirnya untuk menunjukkan popularitas sekaligus probabilitas kemenangannya[7].
Strategi kampanye Edwards yang ‘berdiri’ di antara perubahan Obama dan pengalaman Hillary sebagaimana yang dijelaskan di atas memang seolah menguntungkan. Akan tetapi, publik justru menganggap Edwards bersikap ambigu dan tidak tegas. Salah satu yang dikritik oleh media massa dan analis adalah pernyataannya pada 19 Januari bahwa ancaman keamanan dunia terbesar dalam waktu dekat adalah kemungkinan serangan Israel atas fasilitas nuklir Iran. Padahal dalam waktu tidak jauh berbeda, Edwards mengatakan bahwa senjata nuklir Iran adalah sesuatu yang tidak dapat ditolerir dan mendukung segala tindakan Israel atas Iran.
Bill Clinton pada tahun 1992 sebenarnya juga mengalami saat-saat seperti yang dialami Edwards di mana dia menjadi peringkat ketiga dalam beberapa kaukus dan primary awal. Akan tetapi, jarak perolehan suara Clinton dengan peringkat pertama, Paul Tsongas, tidak terlalu jauh. Bill Clinton juga memiliki kharisma yang tidak mampu dibangun oleh Edwards. Sangat berat bagi Edwards untuk memunculkan titik utama yang dapat menjadi nilai jualnya sebagaimana yang dimiliki Obama dan Hillary. Ataukah memang Edwards hanya mengincar posisi calon wakil presiden sebagaimana yang telah diraihnya pada saat berpasangan dengan Kerry pada 2004? Di sinilah, Edwards berpeluang besar. Hampir tidak ada resistensi baik dari Obama maupun Hillary jika Edwards ditampilkan sebagai calon wakil presiden. Minimal popularitas Edwards masih jauh di atas kandidat Demokrat yang lain, seperti Kucinich dan Richardson.
II.4 Obama Sebatas Fenomenakah ?
Hillary adalah bintang polling yang terus berkibar. Sejak polling nasional yang diadakan oleh ABC News/Washington Post Poll pada 7 Agustus 2007, Hillary jauh memimpin dengan 40 % suara jauh meninggalkan Obama (21 %), Edwards (13%), dan calon lainnya. Bahkan, pada polling tanggal 13 Oktober 2007, Clinton meraih 46 % suara, sementara Obama dan Erdwards meraih masing-masing 17 % dan 12 %.
Hanya pada awal tahun 2008, Obama mulai menunjukkan determinasi terhadap Hillary. Persaingan yang ketat di Iowa, New Hampshire, dan Nevada membuat Clinton bersaing ketat dengan Obama dengan selisih tidak lebih dari lima persen dalam suara nasional. Sementara Edwards tidak pernah lebih dari 20%.
Setelah mereduksi peluang Edwards, maka permasalahan selanjutnya yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana akhir dari persaingan Hillary – Obama. Persaingan keduanya jauh lebih dari persaingan individual, segmen pendukung, maupun visi. Lebih dari itu, keduanya adalah simbol pertarungan antar faksi di dalam partai Demokrat. Kelompok Demokrat yang konservatif berpihak pada Hillary. Sementara pemilih Demokrat muda dan kelompok yang menentukan pilihan hanya beberapa hari sebelum pemilihan lebih cenderung ke Obama. Hal ini relevan dengan kenyataan survei The New York Times selama beberapa kali kaukus dan primary di mana sebagian besar anggota Demokrat berusia di atas 45 lebih memilih Hillary dan di bawah 45 memilih Obama. Demikian pula orang yang sejak awal menjadi simpatisan Demokrat lebih memilih Hillary, sementara orang yang bukan pemilih klasik Demokrat lebih memilih Obama.
Selain resistensi dari golongan yang mengaku ‘lebih Demokrat’, Obama juga sedikit kalah dari Hillary dalam permasalahan ekonomi dan kesejahteraan. Hillary memiliki konsep yang jelas dalam membantu kelompok menengah, perluasan asuransi kesehatan, dan perbaikan ekonomi. Sementara Obama lebih unggul dalam wacana perubahan sistem politik, utamanya dalam hubungan luar negeri. Padahal menurut survei NPR 21 Januari 2008, ternyata pemilih dari Demokrat jauh lebih mementingkan isu perbaikan ekonomi daripada kebijakan luar negeri[8].
Dalam masalah imigrasi baik Hillary maupun Obama relatif seimbang dan tidak terlalu berani menawarkan perubahan mengingat Demokrat sangat populer di kalangan imigran. Dalam isu homeland security, banyak simpatisan Demokrat yang tentunya khawatir dengan konsep Obama yang terlalu bebas dan permisif terhadap kemungkinan terorisme.
Secara lebih kritis, sebagian Demokrat tidak begitu saja mempercayai wacana perubahan yang ditawarkan Obama. Obama mewacanakan penarikan pasukan secepat mungkin dari Irak dan Afghanistan. Namun, Obama jarang menjelaskan bagaimana nasib rakyat Irak dan Afghanistan jika pasukan AS ditarik. Bukankah penarikan pasukan justru akan membuat suasana di Irak dan Afghanistan makin kacau karena rivalitas berbagai suku dan golongan? Apakah mudah menyerahkan mandat keamanan kepada PBB tanpa peran serta dan inisiatif dari AS? Pertanyaan itulah yang harus dijawab Obama jika menginginkan adanya keyakinan kuat dari pendukungnya bahwa perubahan yang ditawarkan Obama akan membawa kebaikan baik bagi AS maupun dunia.
Obama sebaiknya cermat mengamati studi dari Pew Research Center pada tahun 2005 yang mengatakan bahwa kelompok liberal dari Demokrat yang memiliki pikiran progresif dan peduli terhadap peran serta AS dalam politik global berjumlah 45,6%. Kelompok ini mungkin dapat menjadi basis dukungan bagi Obama.
Sementara itu, kelompok ekonomi lemah dan menengah berjumlah sekitar 21,2%. Sisanya, 33,2% adalah kelompok konservatif yang secara ekonomi dan politik lebih menyukai konsep pertumbuhan ekonomi berbasis pada pemerataan, pemberdayaan, dan peran pemerintah dalam mengatasi kemiskinan sebagaimana yang diajukan Hillary. Konservatif juga tidak menyukai perubahan radikal yang membahayakan kondisi ekonomi dan politik dalam negeri.
Dua kelompok di atas bisa menjadi basis Hillary, sehingga Hillary menurut keyakinan penulis memiliki peluang besar untuk unggul secara tipis 55 % dibanding Obama sekitar 45%. Obama bisa membalik keadaan jika mulai memperkuat visi ekonomi dan permasalahan sosial. Tanpa itu, Hillary akan menjadi pemenang.
III. Peta Persaingan Republik
III.1 Menimbang Misi
Jika kandidat dari Partai Demokrat dapat dikerucutkan ke dalam tiga nama, tidak begitu dengan Partai Republik. Sampai saat ini kandidat Partai Republik menunjukkan suara dukungan yang relatif seimbang di antara para kandidat. Meski demikian, ada lima kandidat yang konsisten berada di papan atas. Mereka adalah Mike Huckabe, Ruddy Giullani, Fred Thomson, Mitt Romney, dan John Mc Cain. Ada pun penulis tidak mencantumkan nama Ron Paul yang pada pertengahan 2007 sempat berada di posisi ketiga karena Paul terus menunjukkan kemunduran dalam polling hingga tidak pernah masuk lima besar.
Sikap kelima kandidat dari Partai Republik dapat digambarkan sebagai berikut :
1 Mike Huckabee
>menurunkan pajak ekspor
>efisiensi terhadap pengeluaran negara
>membangun keharmonisan keluarga
>menolak insentif, toleransi, dan amnesti kepada imigran illegal
> menolak NAFTA yang berpotensi mengundang masuknya immigran illegal dari Kanada dan Meksiko
>Mempertahankan pasukan di Irak
>Meningkatkan serangan terhadap Al Qaeda
>Mendukung kekuatan militer Israel
>Menyebarkan demokrasi di Kuba
>Meningkatkan anggaran militer
>meningkatkan pengwasan thd masuknya orang asing
Sementara itu, ‘perubahan’ sering menjadi ‘alat dagang’ Obama. Visi perubahan politik AS menjadikan Obama mendapat dukungan luas dari publik. Bahkan, majalah People dan NewsWeek edisi Desember 2007 menobatkan Obama sebagai salah satu tokoh fenomenal dan paling berpengaruh tahun 2007. Obama adalah kandidat pertama yang mendengungkan perubahan melalui semboyannya “Change, We Can Believe”. Belakangan, Hillary dan Edwards pun turut serta mendengungkan “change”.
Muda, segar, dan enerjik adalah citra yang dibangun Obama sejak awal. Didukung dengan kemampuan orasinya yang dianggap menyamai JFK dan Marthin Luther King membuat Obama memiliki daya tarik yang luar biasa. Beruntung sekali Obama tidak pernah mengeksploitasi isu rasial dan tidak menonjolkan diri bahwa dia adalah orang Afro-America. Hal ini membuat dia mampu mendapat dukungan dari berbagai segmen, termasuk kaum kulit putih. Sebagai contoh, Obama menang secara fenomenal di Iowa dengan suara 38% di atas Edwards (30%) dan Clinton (29%), padahal hanya ada 4 % orang kulit hitam di Iowa[5].
Dalam visi politik dalam negerinya Obama menginginkan peran serta rakyat AS yang lebih signifikan dalam politik dan menolak keterlibatan lobbyist yang dianggap terlalu besar pengaruhnya dalam kebijakan politik AS. Dalam politik luar negeri, Obama menawarkan warna kebijakan yang lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi dan pemberian sanksi, bahkan terhadap berbagai kekuatan yang selama ini berseberangan dengan kepentingan AS, seperti Iran, Korea Utara, Kuba, dan Syria daripada pemberian sanksi. Dalam upaya menyelesaikan konflik Timur Tengah, terutama Palestina, Obama adalah satu-satunya kandidat yang menawarkan dialog dan kemerdekaan Palestina daripada calon lain yang lebih mengutamakan tindakan tegas tehadap Hammas.
Bagi banyak masyarakat AS Obama dapat menjadi simbol perlawanan terhadap Bush. Obama menawarkan alternatif yang diharapkan dapat memecah stagnansi atas ‘gagal’nya perlawanan terhadap Bush. Masyarakat AS yang khawatir dengan terpuruknya citra AS di mata negara lain sebagai akibat perang Irak, Afghanistan, tindakan yang berlebihan dalam melawan terorisme, dan penolakan terhadap Protokol Kyoto lebih cenderung memilih Obama. Keberanian Obama menawarkan dialog yang intensif dengan berbagai negara, adanya negara Palestina dan peningkatan peran AS dalam melawan kemiskinan global terasa lebih ‘berani’ dibanding Clinton dan Edwards.
Clinton memang mengampanyekan perubahan pula. Akan tetapi, Clinton juga menghadapi banyak pula resistensi rakyat AS yang tidak ingin 28 tahun dipimpin oleh dua dinasti, Clinton – Bush. Visi Obama yang dianggap berkeinginan mengubah wajah AS yang lebih ramah dan kontributif terhadap perkembangan dunia membuatnya banyak mendapat dukungan dari kelompok idealis, usia muda (di bawah 40 tahun) dan terpelajar yang bersikap kritis serta menyukai pemikiran alternatif[6].
Rivalitas Hillary dan Obama terkait pengalaman dan perubahan menarik perhatian publik. Hillary mengatakan bahwa Obama hanya bisa berbicara dan apa yang diinginkannya hanyalah mimpi. Obama kemudian menjawab hal itu dengan memaparkan apa saja capaian-capaiannya selama menjadi anggota Kongres. Demikian pula, Obama mengemukakan hasrat untuk menghadang Hillary dengan menonjolkan isu Hillary yang dianggap terlalu ambisius.
Dalam berbagai perdebatan dan kampanye Hillary seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dia adalah kandidat terbaik yang tidak mungkin disamai oleh kandidat lain. Hillary juga terlihat sangat ingin membuat sejarah sebagai presiden wanita pertama. Justru hal inilah yang menjadi bumerang karena sebagian masyarakat tidak menyukai kandidat yang terlalu ambisius.
II.3 Edwards, Setetes Peluang Tersisa
Rivalitas Hillary dan Obama tidak otomatis menutup peluang Edwards untuk menang. Edwards selalu konsisten mengikuti di belakang Hillary dan Obama. Edwards membuat kejutan dengan merebut peringkat kedua di kaukus Iowa dengan menggeser Hillary yang selalu unggul dalam polling. Sayangnya, momentum itu tidak berlanjut hingga Edwards tidak memperoleh suara signifikan di New Hampshire, Michigan, dan Nevada. Menarik untuk melihat probabilitas apakah Edwards mampu menjadi ‘kuda hitam’ dalam rivalitas Hillary-Obama.
Edwards relatif selalu tampil menawan dalam setiap debat. Berbeda dengan Hillary dan Obama yang lebih sering kampanye di kota-kota besar, Edwards lebih banyak berkampanye di kota-kota kecil. Menjelang kaukus Iowa, misalnya, Edwards hanya dua kali bertatap muka dengan pendukungnya di Des Moines. Tampaknya, Edwards bekerja keras merebut massa yang tidak begitu dipedulikan Hillary dan Obama.
Dalam perjalanan kampanye, Edwards merupakan fenomena menarik. Di satu sisi, Edwards mengaku berada di pihak Obama untuk melakukan perubahan dan melawan ambisi Hillary, tetapi di an. Edwards berusaha mengambil keuntungan dari rivalitas Obama-Hillary dengan harapan akan muncul wacana dari publik bahwa dialah kandidat alternatif yang masisi lain Edwards mengatakan bahwa visi Obama adalah mimpi yang sulit diwujudkmpu ‘meramu’ perubahan yang dibawa Obama dan pengalaman yang dibawa Hillary.
Jika Edwards tidak bisa memperbaiki posisinya sampai detik-detik menjelang Super Tuesday di sekitar 20 states, maka berat baginya untuk bisa menjadi calon presiden dari Demokrat. South Carolina adalah harapan terakhirnya untuk menunjukkan popularitas sekaligus probabilitas kemenangannya[7].
Strategi kampanye Edwards yang ‘berdiri’ di antara perubahan Obama dan pengalaman Hillary sebagaimana yang dijelaskan di atas memang seolah menguntungkan. Akan tetapi, publik justru menganggap Edwards bersikap ambigu dan tidak tegas. Salah satu yang dikritik oleh media massa dan analis adalah pernyataannya pada 19 Januari bahwa ancaman keamanan dunia terbesar dalam waktu dekat adalah kemungkinan serangan Israel atas fasilitas nuklir Iran. Padahal dalam waktu tidak jauh berbeda, Edwards mengatakan bahwa senjata nuklir Iran adalah sesuatu yang tidak dapat ditolerir dan mendukung segala tindakan Israel atas Iran.
Bill Clinton pada tahun 1992 sebenarnya juga mengalami saat-saat seperti yang dialami Edwards di mana dia menjadi peringkat ketiga dalam beberapa kaukus dan primary awal. Akan tetapi, jarak perolehan suara Clinton dengan peringkat pertama, Paul Tsongas, tidak terlalu jauh. Bill Clinton juga memiliki kharisma yang tidak mampu dibangun oleh Edwards. Sangat berat bagi Edwards untuk memunculkan titik utama yang dapat menjadi nilai jualnya sebagaimana yang dimiliki Obama dan Hillary. Ataukah memang Edwards hanya mengincar posisi calon wakil presiden sebagaimana yang telah diraihnya pada saat berpasangan dengan Kerry pada 2004? Di sinilah, Edwards berpeluang besar. Hampir tidak ada resistensi baik dari Obama maupun Hillary jika Edwards ditampilkan sebagai calon wakil presiden. Minimal popularitas Edwards masih jauh di atas kandidat Demokrat yang lain, seperti Kucinich dan Richardson.
II.4 Obama Sebatas Fenomenakah ?
Hillary adalah bintang polling yang terus berkibar. Sejak polling nasional yang diadakan oleh ABC News/Washington Post Poll pada 7 Agustus 2007, Hillary jauh memimpin dengan 40 % suara jauh meninggalkan Obama (21 %), Edwards (13%), dan calon lainnya. Bahkan, pada polling tanggal 13 Oktober 2007, Clinton meraih 46 % suara, sementara Obama dan Erdwards meraih masing-masing 17 % dan 12 %.
Hanya pada awal tahun 2008, Obama mulai menunjukkan determinasi terhadap Hillary. Persaingan yang ketat di Iowa, New Hampshire, dan Nevada membuat Clinton bersaing ketat dengan Obama dengan selisih tidak lebih dari lima persen dalam suara nasional. Sementara Edwards tidak pernah lebih dari 20%.
Setelah mereduksi peluang Edwards, maka permasalahan selanjutnya yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana akhir dari persaingan Hillary – Obama. Persaingan keduanya jauh lebih dari persaingan individual, segmen pendukung, maupun visi. Lebih dari itu, keduanya adalah simbol pertarungan antar faksi di dalam partai Demokrat. Kelompok Demokrat yang konservatif berpihak pada Hillary. Sementara pemilih Demokrat muda dan kelompok yang menentukan pilihan hanya beberapa hari sebelum pemilihan lebih cenderung ke Obama. Hal ini relevan dengan kenyataan survei The New York Times selama beberapa kali kaukus dan primary di mana sebagian besar anggota Demokrat berusia di atas 45 lebih memilih Hillary dan di bawah 45 memilih Obama. Demikian pula orang yang sejak awal menjadi simpatisan Demokrat lebih memilih Hillary, sementara orang yang bukan pemilih klasik Demokrat lebih memilih Obama.
Selain resistensi dari golongan yang mengaku ‘lebih Demokrat’, Obama juga sedikit kalah dari Hillary dalam permasalahan ekonomi dan kesejahteraan. Hillary memiliki konsep yang jelas dalam membantu kelompok menengah, perluasan asuransi kesehatan, dan perbaikan ekonomi. Sementara Obama lebih unggul dalam wacana perubahan sistem politik, utamanya dalam hubungan luar negeri. Padahal menurut survei NPR 21 Januari 2008, ternyata pemilih dari Demokrat jauh lebih mementingkan isu perbaikan ekonomi daripada kebijakan luar negeri[8].
Dalam masalah imigrasi baik Hillary maupun Obama relatif seimbang dan tidak terlalu berani menawarkan perubahan mengingat Demokrat sangat populer di kalangan imigran. Dalam isu homeland security, banyak simpatisan Demokrat yang tentunya khawatir dengan konsep Obama yang terlalu bebas dan permisif terhadap kemungkinan terorisme.
Secara lebih kritis, sebagian Demokrat tidak begitu saja mempercayai wacana perubahan yang ditawarkan Obama. Obama mewacanakan penarikan pasukan secepat mungkin dari Irak dan Afghanistan. Namun, Obama jarang menjelaskan bagaimana nasib rakyat Irak dan Afghanistan jika pasukan AS ditarik. Bukankah penarikan pasukan justru akan membuat suasana di Irak dan Afghanistan makin kacau karena rivalitas berbagai suku dan golongan? Apakah mudah menyerahkan mandat keamanan kepada PBB tanpa peran serta dan inisiatif dari AS? Pertanyaan itulah yang harus dijawab Obama jika menginginkan adanya keyakinan kuat dari pendukungnya bahwa perubahan yang ditawarkan Obama akan membawa kebaikan baik bagi AS maupun dunia.
Obama sebaiknya cermat mengamati studi dari Pew Research Center pada tahun 2005 yang mengatakan bahwa kelompok liberal dari Demokrat yang memiliki pikiran progresif dan peduli terhadap peran serta AS dalam politik global berjumlah 45,6%. Kelompok ini mungkin dapat menjadi basis dukungan bagi Obama.
Sementara itu, kelompok ekonomi lemah dan menengah berjumlah sekitar 21,2%. Sisanya, 33,2% adalah kelompok konservatif yang secara ekonomi dan politik lebih menyukai konsep pertumbuhan ekonomi berbasis pada pemerataan, pemberdayaan, dan peran pemerintah dalam mengatasi kemiskinan sebagaimana yang diajukan Hillary. Konservatif juga tidak menyukai perubahan radikal yang membahayakan kondisi ekonomi dan politik dalam negeri.
Dua kelompok di atas bisa menjadi basis Hillary, sehingga Hillary menurut keyakinan penulis memiliki peluang besar untuk unggul secara tipis 55 % dibanding Obama sekitar 45%. Obama bisa membalik keadaan jika mulai memperkuat visi ekonomi dan permasalahan sosial. Tanpa itu, Hillary akan menjadi pemenang.
III. Peta Persaingan Republik
III.1 Menimbang Misi
Jika kandidat dari Partai Demokrat dapat dikerucutkan ke dalam tiga nama, tidak begitu dengan Partai Republik. Sampai saat ini kandidat Partai Republik menunjukkan suara dukungan yang relatif seimbang di antara para kandidat. Meski demikian, ada lima kandidat yang konsisten berada di papan atas. Mereka adalah Mike Huckabe, Ruddy Giullani, Fred Thomson, Mitt Romney, dan John Mc Cain. Ada pun penulis tidak mencantumkan nama Ron Paul yang pada pertengahan 2007 sempat berada di posisi ketiga karena Paul terus menunjukkan kemunduran dalam polling hingga tidak pernah masuk lima besar.
Sikap kelima kandidat dari Partai Republik dapat digambarkan sebagai berikut :
1 Mike Huckabee
>menurunkan pajak ekspor
>efisiensi terhadap pengeluaran negara
>membangun keharmonisan keluarga
>menolak insentif, toleransi, dan amnesti kepada imigran illegal
> menolak NAFTA yang berpotensi mengundang masuknya immigran illegal dari Kanada dan Meksiko
>Mempertahankan pasukan di Irak
>Meningkatkan serangan terhadap Al Qaeda
>Mendukung kekuatan militer Israel
>Menyebarkan demokrasi di Kuba
>Meningkatkan anggaran militer
>meningkatkan pengwasan thd masuknya orang asing
2John Mc Cain
>Mendukung perdagangan bebas dengan keyakinan AS tetap akan menjadi eksportir dan investor terbesar di dunia
>menolak penurunan pajak
>membatasi biaya asuransi kesehatan yang dirasa memberatkan tenaga kerja AS.
>mewajibkan imigran yang ingin menjadi warga negara AS untuk lancar berbahasa Inggris, memahami sejarah AS, dan mendukung nilai-nilai AS
> Menambah pasukan di Irak
> menekan Iran dan Syria
>menambah peralatan dan persenjataan militer
>menambah senjata nuklir
>Mendukung perdagangan bebas dengan keyakinan AS tetap akan menjadi eksportir dan investor terbesar di dunia
>menolak penurunan pajak
>membatasi biaya asuransi kesehatan yang dirasa memberatkan tenaga kerja AS.
>mewajibkan imigran yang ingin menjadi warga negara AS untuk lancar berbahasa Inggris, memahami sejarah AS, dan mendukung nilai-nilai AS
> Menambah pasukan di Irak
> menekan Iran dan Syria
>menambah peralatan dan persenjataan militer
>menambah senjata nuklir
3Mitt Romney
>menurunkan pajak perusahaan
>perbaikan infrastruktur
>mengurangi biaya kesehatan dengan deregulasi
>melawan imigran illegal dg tidak memberi fasilitas memadai untuk kesehatan & pendidikan kpd imigran illegal
>meningkatkan aliansi global melawan Jihad Islam
>meningkatkan aliansi dg negara Amerika Latin utk mencegah sosialisme
>memperkuat militer dg menambah tentara
>menurunkan pajak perusahaan
>perbaikan infrastruktur
>mengurangi biaya kesehatan dengan deregulasi
>melawan imigran illegal dg tidak memberi fasilitas memadai untuk kesehatan & pendidikan kpd imigran illegal
>meningkatkan aliansi global melawan Jihad Islam
>meningkatkan aliansi dg negara Amerika Latin utk mencegah sosialisme
>memperkuat militer dg menambah tentara
4Ruddy Giuliani
>meningkatkan akuntabilitas pemerintah
>meningkatkan jumlah negara yang mempunyai FTA dg AS
>meningkatkan akses pendidikan utk orang cacat
>memperbaiki data base yang memungkinkan keberadaan immigran illegal dapat dilacak
>meneruskan perang melawan Al Qaeda, Hammas, Hezbollah
>memperluas keanggotaan NATO dg mengikutsertakan negara-negara yang pro-AS meski tidak berada di kawasan Atlantik Utara
>desentralisasi Department of Homeland Security agar cepat merespon jika ada terorisme/bencana
>mengoptimalkan tindakan pencegahan thd orang-orang yang mencurigakan
>meningkatkan akuntabilitas pemerintah
>meningkatkan jumlah negara yang mempunyai FTA dg AS
>meningkatkan akses pendidikan utk orang cacat
>memperbaiki data base yang memungkinkan keberadaan immigran illegal dapat dilacak
>meneruskan perang melawan Al Qaeda, Hammas, Hezbollah
>memperluas keanggotaan NATO dg mengikutsertakan negara-negara yang pro-AS meski tidak berada di kawasan Atlantik Utara
>desentralisasi Department of Homeland Security agar cepat merespon jika ada terorisme/bencana
>mengoptimalkan tindakan pencegahan thd orang-orang yang mencurigakan
5Fred Thompson
>melakukan reformasi pajak agar lebih adil dan mudah
>mendukung FTA
>meningkatkan peran keluarga dalam pendidikan
>menolak insentif, toleransi, dan amnesti kepada imigran illegal
>meneruskan perang Irak
>meneruskan tekanan terhadap Iran, Korea Utara, Syria, dan Kuba
>mendukung upaya mengatasi pemanasan global
>penguatan militer dan intelijen
Persaingan di Republik jauh lebih kompleks dibanding Demokrat. Tiga kandidat menjadi pemenang kaukus atau primary di awal. Huckabee unggul di kaukus Iowa, Mc Cain di primary New Hampshire dan primary South Carolina, sementara Mitt Romney di primary Michigan dan kaukus Nevada. Fred Thompson juga memperoleh hasil yang lumayan dengan menduduki peringkat kedua di Nevada. Giuliani sampai sekarang masih berharap mendapat suara besar dari Florida dan Super Tuesday[9]. Masing-masing kandidat memiliki keunggulan atas berbagai isu.
Fred Thompson meski melonjak dalam beberapa kaukus, primary, dan polling, namun popularitasnya secara nasional masih di bawah keempat kandidat lain. Tidak ada poin, isu, gagasan, momentum, dan kharakteristik penting yang membuat Thompson unggul atas kandidat lain. Kemungkinan besar Thompson hanya menang di dua state, yaitu Alabama di mana dia dilahirkan dan Tennessee di mana dia terpilih menjadi anggota Senat AS. Keberadaan Thompson bisa direduksi dalam analisa peluang kandidat ini.
III.2 Huckabee, Religiusitas dalam Politik
Huckabee memakai bendera religius, moral, dan pentingnya institusi keluarga untuk meraih massa Kristen Evangelis yang menurut Pew Research Center berjumlah 53 % dari semua masyarakat AS. Jumlah ini lumayan besar dan digunakan oleh Huckabee untuk menghadang Mitt Romney yang Mormon dan Giulani yang lebih liberal[10]. Huckabee tidak ragu mengatakan bahwa agama yang diyakininya tidak hanya mempengaruhi, tetapi justru mengarahkan kebijakan negara.
Visi Huckabee yang menonjolkan pada moral dan nilai didukung oleh kemampuan orasi yang paling baik dibanding kandidat lain di Republik. Hal itu membuat dia sangat kharismatik di hadapan pemilih. Permasalahan mendasar yang dihadapi Huckabee adalah dia tidak begitu jelas dalam mengaitkan implikasi faktor moral dan religius yang dibawanya terhadap platform yang dia tawarkan.
Sangat sulit untuk hanya bersandar pada moral tanpa menawarkan perbaikan sistem. Hampir tidak ada yang istimewa dalam program Huckabee, kecuali sikapnya yang paling tegas membatasi masuknya imigran dibanding kandidat lain. Dalam sisi ekonomi dan sosial, Huckabee tidak menawarkan perbaikan yang signifikan. Keinginannya untuk keluar dari NAFTA akan membawa preseden buruk bagi peran AS sebagai inisiator dan pemimpin dalam perdagangan bebas.
Meskipun saat ini, Huckabee telah menang di Iowa dan meraih hasil yang baik di South Carolina, tetapi sangat sulit baginya meraih kemenangan di state yang lebih menganggap ekonomi dan kesejahteraan sebagai hal yang penting. Kemungkinan hanya di state yang memiliki jumlah Kristen Evangelis banyak dan kultur masyarakatnya yang religius Huckabee bisa menang, seperti di Arkansas, Montana, North Carolina, dan Texas.
Apalagi berbagai survei menunjukkan keyakinan dan agama tidak menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan. Polling yang dilakukan Washington Post, 5 Januari 2008 menunjukkan hanya 30 % yang menganggap agama sebagai hal penting dalam menentukan pilihan, sementara 66 % tidak menganggap penting.
III.3 McCain, Harapan Kelompok Konservatif
John McCain berhasil meraih kemenangan di New Hampshire dan South Carolina yang membuatnya berada di posisi terdepan dalam polling nasional. McCain selama kampanye konsisten membawa tema konservatif. McCain selalu mendukung penambahan pasukan di Irak dan penguatan militer dalam negeri. McCain tidak memiliki keistimewaan dalam visi ekonomi, dan kesejahteraan.
McCain dapat dikatakan sama sekali tidak menawarkan apa-apa dalam pembaruan ekonomi. Tidak ada strategi ekonomi yang jelas, kecuali hanya penolakannya terhadap pemotongan beberapa jenis pajak sebagaimana yang telah dilakukan pemerintahan Bush.
Dengan visi yang ‘sederhana’ ini bagaimana McCain dapat meraih kemenangan di dua state sampai saat ini? Republik dalam sejarahnya sangat memberi simpati kepada kandidat yang pernah pula maju pada periode sebelumnya tetapi kalah[11]. Hal inilah yang tampaknya juga mengiringi McCain. McCain dianggap memiliki pengalaman dibanding kandidat lain.
Kemenangan di South Carolina bisa dipahami mengingat South Carolina dalam sejarahnya pernah mengirimkan tentara dan sukarelawan dalam jumlah besar dalam berbagai perang. Bahkan, South Carolina erat dengan tradisi militer dan veteran yang memungkinkan McCain mendapat kemenangan[12].
McCain adalah simbol masyarakat AS yang masih meyakini bahwa perang dan unilateralisme adalah cara paling tepat untuk tetap menjadikan AS sebagai pemimpin dunia sekaligus membawa AS pada kondisi aman dan stabil dari teror. McCain menampilkan diri sebagai Republik yang konservatif ‘sayap kanan’ dengan mengutamakan faktor religiusitas dan ke-Amerika-an[13].
Sama halnya dengan Huckabee, McCain dalam beberapa kesempatan juga mengatakan bahwa AS adalah bangsa Protestan. Lebih dari itu, McCain dianggap lebih berpengalaman dan lebih kontributif untuk menjadi pemimpin yang kuat. Faktor ke-Amerika-an yang ditonjolkan McCain itulah yang membuat dia masih sangat berprospek meraih suara di banyak state, terutama di state yang memiliki tradisi kepahlawanan dan memiliki kontribusi penting dalam perang, seperti Maryland, Pensylvania, Connecticut, dan Vermont.
III.4 Giuliani, Jalan yang Tertunda
Sementara itu, Giulliani yang sepanjang tahun 2007 selalu memimpin polling nasional kini terus menunjukkan penurunan dukungan secara drastis. Kemerosotan Giuliani itu diawali dari serangan berbagai media massa pada akhir 2007 yang mengkoreksi jasanya dalam mengatasi terorisme pada saat serangan 11 September di mana dia menjadi walikota New York[14]. Hal itu berlanjut dengan ketidakmampuannya memenangkan argumentasi dalam perdebatan, sehingga publik mulai meragukan kredibilitasnya.
Giuliani masih berdalih dengan menjanjikan kemenangan di Florida dan beberapa state lain yang memiliki jumlah delegasi besar. Tampaknya ini bukanlah hal mudah bagi Giuliani. Kesalahan fatal yang dibuatnya selama kampanye sampai sekarang adalah Giuliani hanya ‘menjual’ pengalaman dan jasanya ketika menjadi walikota New York. Padahal tidak seperti McCain yang memiliki track record sebagai pejuang, Giuliani pada hakikatnya adalah birokrat yang mana jasanya dalam masalah 11 September, homeland security, dan imigrasi banyak digugat pihak lain yang justru merasa lebih berjasa.
Giuliani juga hanya populer di state-state di daerah pantai timur. Jika Giuliani kalah di Florida pada 29 Januari mendatang, maka besar kemungkinan dia akan kalah dalam konvensi.
III.5 Romney dan Sentimen Agama
>melakukan reformasi pajak agar lebih adil dan mudah
>mendukung FTA
>meningkatkan peran keluarga dalam pendidikan
>menolak insentif, toleransi, dan amnesti kepada imigran illegal
>meneruskan perang Irak
>meneruskan tekanan terhadap Iran, Korea Utara, Syria, dan Kuba
>mendukung upaya mengatasi pemanasan global
>penguatan militer dan intelijen
Persaingan di Republik jauh lebih kompleks dibanding Demokrat. Tiga kandidat menjadi pemenang kaukus atau primary di awal. Huckabee unggul di kaukus Iowa, Mc Cain di primary New Hampshire dan primary South Carolina, sementara Mitt Romney di primary Michigan dan kaukus Nevada. Fred Thompson juga memperoleh hasil yang lumayan dengan menduduki peringkat kedua di Nevada. Giuliani sampai sekarang masih berharap mendapat suara besar dari Florida dan Super Tuesday[9]. Masing-masing kandidat memiliki keunggulan atas berbagai isu.
Fred Thompson meski melonjak dalam beberapa kaukus, primary, dan polling, namun popularitasnya secara nasional masih di bawah keempat kandidat lain. Tidak ada poin, isu, gagasan, momentum, dan kharakteristik penting yang membuat Thompson unggul atas kandidat lain. Kemungkinan besar Thompson hanya menang di dua state, yaitu Alabama di mana dia dilahirkan dan Tennessee di mana dia terpilih menjadi anggota Senat AS. Keberadaan Thompson bisa direduksi dalam analisa peluang kandidat ini.
III.2 Huckabee, Religiusitas dalam Politik
Huckabee memakai bendera religius, moral, dan pentingnya institusi keluarga untuk meraih massa Kristen Evangelis yang menurut Pew Research Center berjumlah 53 % dari semua masyarakat AS. Jumlah ini lumayan besar dan digunakan oleh Huckabee untuk menghadang Mitt Romney yang Mormon dan Giulani yang lebih liberal[10]. Huckabee tidak ragu mengatakan bahwa agama yang diyakininya tidak hanya mempengaruhi, tetapi justru mengarahkan kebijakan negara.
Visi Huckabee yang menonjolkan pada moral dan nilai didukung oleh kemampuan orasi yang paling baik dibanding kandidat lain di Republik. Hal itu membuat dia sangat kharismatik di hadapan pemilih. Permasalahan mendasar yang dihadapi Huckabee adalah dia tidak begitu jelas dalam mengaitkan implikasi faktor moral dan religius yang dibawanya terhadap platform yang dia tawarkan.
Sangat sulit untuk hanya bersandar pada moral tanpa menawarkan perbaikan sistem. Hampir tidak ada yang istimewa dalam program Huckabee, kecuali sikapnya yang paling tegas membatasi masuknya imigran dibanding kandidat lain. Dalam sisi ekonomi dan sosial, Huckabee tidak menawarkan perbaikan yang signifikan. Keinginannya untuk keluar dari NAFTA akan membawa preseden buruk bagi peran AS sebagai inisiator dan pemimpin dalam perdagangan bebas.
Meskipun saat ini, Huckabee telah menang di Iowa dan meraih hasil yang baik di South Carolina, tetapi sangat sulit baginya meraih kemenangan di state yang lebih menganggap ekonomi dan kesejahteraan sebagai hal yang penting. Kemungkinan hanya di state yang memiliki jumlah Kristen Evangelis banyak dan kultur masyarakatnya yang religius Huckabee bisa menang, seperti di Arkansas, Montana, North Carolina, dan Texas.
Apalagi berbagai survei menunjukkan keyakinan dan agama tidak menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan. Polling yang dilakukan Washington Post, 5 Januari 2008 menunjukkan hanya 30 % yang menganggap agama sebagai hal penting dalam menentukan pilihan, sementara 66 % tidak menganggap penting.
III.3 McCain, Harapan Kelompok Konservatif
John McCain berhasil meraih kemenangan di New Hampshire dan South Carolina yang membuatnya berada di posisi terdepan dalam polling nasional. McCain selama kampanye konsisten membawa tema konservatif. McCain selalu mendukung penambahan pasukan di Irak dan penguatan militer dalam negeri. McCain tidak memiliki keistimewaan dalam visi ekonomi, dan kesejahteraan.
McCain dapat dikatakan sama sekali tidak menawarkan apa-apa dalam pembaruan ekonomi. Tidak ada strategi ekonomi yang jelas, kecuali hanya penolakannya terhadap pemotongan beberapa jenis pajak sebagaimana yang telah dilakukan pemerintahan Bush.
Dengan visi yang ‘sederhana’ ini bagaimana McCain dapat meraih kemenangan di dua state sampai saat ini? Republik dalam sejarahnya sangat memberi simpati kepada kandidat yang pernah pula maju pada periode sebelumnya tetapi kalah[11]. Hal inilah yang tampaknya juga mengiringi McCain. McCain dianggap memiliki pengalaman dibanding kandidat lain.
Kemenangan di South Carolina bisa dipahami mengingat South Carolina dalam sejarahnya pernah mengirimkan tentara dan sukarelawan dalam jumlah besar dalam berbagai perang. Bahkan, South Carolina erat dengan tradisi militer dan veteran yang memungkinkan McCain mendapat kemenangan[12].
McCain adalah simbol masyarakat AS yang masih meyakini bahwa perang dan unilateralisme adalah cara paling tepat untuk tetap menjadikan AS sebagai pemimpin dunia sekaligus membawa AS pada kondisi aman dan stabil dari teror. McCain menampilkan diri sebagai Republik yang konservatif ‘sayap kanan’ dengan mengutamakan faktor religiusitas dan ke-Amerika-an[13].
Sama halnya dengan Huckabee, McCain dalam beberapa kesempatan juga mengatakan bahwa AS adalah bangsa Protestan. Lebih dari itu, McCain dianggap lebih berpengalaman dan lebih kontributif untuk menjadi pemimpin yang kuat. Faktor ke-Amerika-an yang ditonjolkan McCain itulah yang membuat dia masih sangat berprospek meraih suara di banyak state, terutama di state yang memiliki tradisi kepahlawanan dan memiliki kontribusi penting dalam perang, seperti Maryland, Pensylvania, Connecticut, dan Vermont.
III.4 Giuliani, Jalan yang Tertunda
Sementara itu, Giulliani yang sepanjang tahun 2007 selalu memimpin polling nasional kini terus menunjukkan penurunan dukungan secara drastis. Kemerosotan Giuliani itu diawali dari serangan berbagai media massa pada akhir 2007 yang mengkoreksi jasanya dalam mengatasi terorisme pada saat serangan 11 September di mana dia menjadi walikota New York[14]. Hal itu berlanjut dengan ketidakmampuannya memenangkan argumentasi dalam perdebatan, sehingga publik mulai meragukan kredibilitasnya.
Giuliani masih berdalih dengan menjanjikan kemenangan di Florida dan beberapa state lain yang memiliki jumlah delegasi besar. Tampaknya ini bukanlah hal mudah bagi Giuliani. Kesalahan fatal yang dibuatnya selama kampanye sampai sekarang adalah Giuliani hanya ‘menjual’ pengalaman dan jasanya ketika menjadi walikota New York. Padahal tidak seperti McCain yang memiliki track record sebagai pejuang, Giuliani pada hakikatnya adalah birokrat yang mana jasanya dalam masalah 11 September, homeland security, dan imigrasi banyak digugat pihak lain yang justru merasa lebih berjasa.
Giuliani juga hanya populer di state-state di daerah pantai timur. Jika Giuliani kalah di Florida pada 29 Januari mendatang, maka besar kemungkinan dia akan kalah dalam konvensi.
III.5 Romney dan Sentimen Agama
Mitt Romney adalah kandidat yang memiliki visi ekonomi dan kesejahteraan paling jelas. Dengan demikian dapat dipahami mengapa Romney bisa menang secara telak di Michigan mengingat kondisi perekonomian Michigan yang sangat terpuruk. Hanya saja masalah utama yang dihadapi Romney adalah agama Mormon yang dianutnya. Berbeda dengan Demokrat yang lebih bervariasi dalam agama, Republik secara tradisi lebih banyak beranggotakan masyarakat yang beragama Protestan. Isu inilah yang membuat Romney kalah di Iowa dari Huckabee, padahal Romney selalu unggul dalam berbagai polling.
Romney sudah melakukan upaya penjelasan kepada publik pada pertengahan November 2007 untuk menetralisir resistensi atas keyakinannya. Dalam penjelasannya, Romney hanya sepintas menjelaskan keyakinannya dan kemudian lebih banyak mengungkapkan perlunya AS untuk tetap menjamin kemerdekaan beragama. Romney juga mengatakan bahwa keyakinannya tidak akan mengarahkan kebijakan jika dia terpilih menjadi presiden.
Romney juga terlalu terlihat ambisius dalam perdebatan. Salah satu hal yang membuat Romney kalah di Iowa dan New Hampshire adalah ketidaksukaan publik atas penampilan Romney yang sering ‘menghabisi’ kandidat lain.
IV. Membaca Angin ke Arah Demokrat
Siapa pun kandidat yang terpilih dari Demokrat akan memiliki peluang yang lebih besar daripada kandidat yang terpilih dari Republik. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan :
1. Jumlah anggota Demokrat yang terdaftar (memiliki kartu anggota) lebih banyak dibanding Republik. Jumlah anggota Demokrat mencapai 72 juta orang dibanding Republik yang hanya 55 juta orang[15]
2. Setelah kemenangan pada pemilu Senat 2006, dukungan terhadap Demokrat memang menurun karena kurang bisa melakukan perubahan signifikan dalam Senat. Akan tetapi, Demokrat tetap populer dengan perbandingan 45 % dan Republik 35 %[16]
3. Kebijakan dan hasil yang dicapai Bush turut melemahkan kedudukan Republik. Keadaan ekonomi yang memburuk ke arah resesi membuat rakyat AS lebih memilih kebijakan ekonomi yang lebih ke arah welfare economy yang dianut oleh Demokrat. Adapun kebijakan ekonomi Bush yang baru-baru ini memberi tambahan kredit lunak kepada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah masih diragukan efektivitasnya oleh banyak pihak.
4. Kebijakan luar negeri AS mendapat tantangan dari banyak pihak, seperti posisi yang berlawanan dengan sebagian besar negara dalam UNFCCC 2007 di Bali memperkuat dorongan dari domestik akan kecenderungan memilih kandidat Demokrat yang secara umum lebih pro-lingkungan. Masyarakat AS sudah mengalami stagnasi dengan Bush dan sangat berharap ada perubahan pada kepemimpinan 2009.
5. Kelompok independen lebih memilih Demokrat daripada Republik. Menurut survei Newsday pada 9 Januari 2008 menunjukkan bahwa 6 dari 10 pemilih independen lebih menyukai Demokrat.
Hal di atas juga diperkuat survei dari Real Clear Politics (RCP) pada awal Januari 2008 yang melakukan head to head polls antara masing-masing kandidat Demokrat (Hillary, Obama, Edwards) dan masing-masing kandidat Republik (McCain, Giuliani, Romney, Huckabee, Thompson). Dalam survei itu terlihat semua kandidat Demokrat selalu menang ketika dihadapkan dengan masing-masing kandidat Republik kecuali McCain. Itu pun McCain hanya unggul tipis di bawah 5 %. Tidak dapat dipungkiri bahwa peluang Demokrat untuk menang pada 2008 lebih besar daripada Republik
V. Menghitung Kepentingan Diplomasi Indonesia
Kebijakan luar negeri ternyata tidak menjadi prioritas perdebatan dan kampanye. Bahkan, kebijakan luar negeri yang menjadi bahan perdebatan utama pun hanya berkisar pada masalah Irak, terorisme, dan imigran.
Ditinjau dari segi geografis hanya Hillary, Obama, Edwards, dan Romney yang menjelaskan tentang perlunya membangun kerjasama dan aliansi dengan negara-negara di Asia Pasifik. Hanya Edwards yang menyebutkan ‘Indonesia’ dalam platform luar negerinya sebagai negara yang perlu dianggap penting untuk melawan terorisme dan mengubah image dunia Islam tentang AS.
Visi kebijakan luar negeri masing-masing kandidat agaknya relevan dengan platform klasik dari masing-masing partai. Demokrat dalam kebijakan luar negerinya bersifat lebih sosial dalam ekonomi dan agresif interventif dalam politik. Sebaliknya, Republik lebih liberal dalam ekonomi dan lebih sosial dalam intervensi politk.
Sisi-sisi positif kebijakan luar negeri Demokrat yang mungkin bisa sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia adalah :
1. Seluruh kandidat Demokrat setuju untuk lebih meningkatkan perhatian terhadap upaya mengatasi global warming[17]. Kemenangan Demokrat akan memberi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk bekerja sama dalam isu lingkungan, seperti bantuan dana dan teknis dalam mengatasi deforestasi maupun kesamaan perspektif dalam CDM. Apalagi selama ini Indonesia memiliki daya tawar dan peran penting dalam mengatasi pemanasan global, seperti dengan menjadi tuan rumah UNFCC dan memelopori F-11
2. Kandidat Demokrat menjanjikan keterlibatan yang lebih dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai MDG. Edwards sebagai contoh mengatakan bahwa membantu banyak negara mengatasi kemiskinan adalah bagian dari upaya mengatasi terorisme dan ancaman terhadap AS.
3. Demokrat lebih mengutamakan multilateralisme daripada unilateralisme. Ketiga kandidat utama Demokrat sepakat untuk menarik pasukan AS di Irak dan menggantinya dengan pasukan PBB. Hal ini seirama dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang lebih mengutamakan berdayanya institusi multilateral dalam mengatasi berbagai permasalahan internasional.
4. Ketiga calon Demokrat menginginkan perubahan wajah politik luar negeri dari mengandalkan perang, sanksi, dan konfrontasi menjadi lebih mengutamakan dialog, kerjasama, dan negosiasi. Ini relevan dengan politik luar negeri Indonesia yang mengedepankan dialog dan negosiasi dalam mengatasi setiap permasalahan. Obama sebagai contoh menawarkan upaya dialog dan solusi dua negara secara damai bagi Israel dan Palestina yang sejalan dengan maksud Indonesia.
5. Demokrat relatif lebih toleran dalam masalah imigrasi. Indonesia akan mendapat kesempatan bagus untuk melakukan perlindungan terhadap kasus-kasus yang terkait dengan warga negara Indonesia di AS yang bermasalah.
Akan tetapi, kemenangan Demokrat tidak serta merta selalu membawa keuntungan positif bagi Indonesia. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai terkait kemenangan Demokrat :
1. Demokrat lebih agresif dan intervensionis dalam masalah-masalah yang terkait HAM dan demokrasi. Sebagai contoh sejak memenangi pemilu di Senat, anggota Demokrat sangat aktif mengajukan act terkait permasalhan HAM dan demokrasi di negara lain. Salah satunya adalah Block Burmese JADE (Junta's Anti-Democratic Efforts) Act of 2007 yang diusulkan Tom Lantos dari Demokrat.
2. Dalam ekonomi internasional Demokrat lebih protektif dan mengutamakan terlindunginya kesejahteraan masyarakat AS terlebih dahulu daripada terlibat dalam perdagangan bebas. Hillary misalnya berulang kali mengutamakan peningkatan kualitas dan teknologi produk AS, Obama bermaksud menambah proteksi dan subsidi terhadap usaha kecil, dan Edwards meningkatkan standar keamanan dan kesehatan produk impor.
Sementara itu, sisi positif dari kemenangan Republik terlihat pada :
1. Republik lebih mendukung perdagangan bebas dan melonggarkan proteksi ekonomi. Hal ini bisa dimanfaatkan diplomasi perdagangan untuk mempromosikan dan meningkatkan ekspor produk Indonesia ke AS.
2. Intervensi terhadap masalah domestik negara lain terkait masalah HAM, demokrasi, dan kebebasan memang ada, tetapi tidak terlalu seintensif jika kepemimpinan dikuasai Demokrat. Usulan Senat terkait pemberian sanksi, ancaman, dan himbauan kepada negara lain yang bermasalah dalam HAM, demokrasi, dan kebebasan lebih banyak diusulkan oleh anggota Senat dari Demokrat.
3. Kerjasama militer, perluasan aliansi, dan penambahan pangkalan militer lebih menjadi prioritas daripada kerjasama ekonomi maupun sosial. Di satu sisi ini adalah peluang bagi diplomasi militer Indonesia. Akan tetapi, perlu pula dikaji lebih mendalam apakah kerjasama ini sejalan atau bertentangan dengan politik luar negeri bebas aktif.
Sedangkan sisi negatif dari kemenangan Republik dalam pemilihan presiden akan terlihat dalam hal :
1. Prioritas kebijakan luar negeri yang berbasis pada pendekatan sanksi dan konfrontasi akan lebih menyulitkan diplomasi Indonesia yang mengutamakan dialog.
2. Kecuali Thompson, tidak ada satu pun kandidat yang menyetujui keterlibatan lebih AS dalam mengatasi global warming.
3. Republik kurang memiliki pemikiran dan aksi kontributif dalam mengatasi permasalahan ekonomi dan kemiskinan dunia. Sebagai contoh, pada saat KTT G-8 tahun 2007 di Jerman, pemerintahan Bush semula sangat menghindari pembahasan mengenai penambahan bantuan kepada negara-negara Afrika
4. Sikap Republik yang cenderung kepada unilateralisme dan mengabaikan peran institusi multilateral akan memberi tantangan lebih bagi diplomasi Indonesia yang menjadikan multilateralisme sebagai jalan penting untuk mencapai pemecahan atas berbagai konflik secara adil dan baik.
VI. Variasi dan Kejelian Strategi Diplomasi
Satu fakta yang mungkin luput dari perhatian kita adalah sehari setelah Kaukus Iowa berbagai media massa nasional, lembaga studi, ormas, partai, dan tokoh politik di Indonesia menyampaikan pujian, harapan, dan bahkan do’a kepada Obama. Harian Pikiran Rakyat menyebutkan Obama adalah figur pemimpin dunia yang ideal. Ahmad Syafi’i Ma’arif di harian Republika menyebut kemenangan Obama adalah kebangkitan ‘politik alternatif’ dunia.
Gatra edisi 16 Januari 2008 juga menampilkan judul menarik “Dampak Obama terhadap Indonesia”, meski isi artikel itu memberi gambaran kabur dan jauh dari kajian mendalam. Tampaknya publik Indonesia menaruh simpati yang besar kepada latar belakang Obama yang pernah tinggal di Indonesia dan berayahkan orang Islam yang diharapkan akan memiliki pandangan dan kebijakan positif terhadap Indonesia.
Ada pula beberapa opini mengharapkan kemenangan kandidat Demokrat daripada Republik. Sebagian rakyat Indonesia tampaknya masih memiliki persepsi yang sangat negatif terhadap kebijakan Bush yang berlebihan dalam mengatasi terorisme.
Akan tetapi, diplomasi mau tidak mau harus lebih kompleks, fleksibel, kreatif, dan berkesinambungan dibanding opini umum yang berkembang dalam ranah domestik Indonesia. Kemenangan dari Demokrat atau Republik memiliki serangkaian wajah positif dan negatif yang harus diantisipasi dengan bijak dan hati-hati.
Dalam melihat kemungkinan kemenangan Demokrat, sebaiknya diplomasi diarahkan dalam hal :
1. Indonesia harus siap menghadapi intervensi atas beberapa masalah, seperti Papua, Maluku, Aceh, dan Timor Leste yang memang sering disuarakan oleh tokoh Demokrat, seperti Eni Faleomavaega yang selalu intens mengamati perkembangan Papua. Pembangunan jaringan yang kuat dan ‘pengelolaan’ yang berkesinambungan terhadap tokoh-tokoh AS yang kritis dan mendukung separatisme dan isu-isu sensitif haruslah terus dilanjutkan
2. Dalam masalah perdagangan dan ekonomi, kemenangan Demokrat harus diantisipasi oleh diplomasi perdagangan yang lebih efektif dalam menghadapi hambatan non tarif yang akan lebih kompleks dan ketat daripada saat ini.
3. Kesamaan persepsi dalam masalah lingkungan, pemanasan global, dan kemiskinan bisa dimanfaatkan Indonesia untuk menjalin kerjasama yang lebih baik dan mengambil inisiatif penting Indonesia utamanya dalam membangun kerjasama yang intens dalam peningkatan capacity building untuk mencapai target MDG.
4. Keinginan kandiddat Demokrat untuk mengubah wajah AS menjadi lebih ‘ramah’ dapat dimanfaatkan dengan menginisiasi dialog lintas budaya, agama, sosial, pendidikan, dan politik yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Sementara itu, kemenangan kandidat dari Republik harus diantisipasi dengan diplomasi yang :
1. meningkatkan kerjasama dalam beberapa item komoditi yang memungkinkan untuk dilakukan perdagangan bebas. Kebijakan ekonomi Republik yang ‘lebih longgar’ harus dimanfaatkan optimal untuk mendorong masuknya produk Indonesia ke AS
2. meskipun berbeda pandangan dalam multilateralisme, dialog, dan isu keamanan non-tradisional, Indonesia harus tetap menunjukkan sebagai negara penting bagi AS. Aset sebagai Islam moderat, negara demokrasi, negara penting di ASEAN dan lembaga multilateral lain serta kestabilan politik domestik harus terus dikedepankan sesuai konteks dan momentum. Indonesia perlu melakukan pendekatan kepada AS terkait kegagalan AS selama pemerintahan Republik (Presiden Bush) dalam membangun citra positif di mata masyarakat Indonesia.
Adalah penting bagi diplomasi untuk memahami dinamika dan konstelasi politik AS sebagai bahan untuk merenung, berpikir, bertindak, dan pada akhirnya merumuskan aksi demi kepentingan politik luar negeri bebas aktif. Kemenangan dari satu pihak, bukan berarti kita mengambil jarak diplomasi dengan AS dan menganggap AS sebagai musuh besar. Demikian pula sebaliknya.
Kalah atau menangnya kandidat dari masing-masing partai akan memberi keuntungan maupun kerugian yang nisbi bagi Indonesia. Jauh lebih penting adalah bagaimana diplomasi Indonesia selalu mampu mengambil peluang dan di saat bersamaan antisipatif terhadap segala kondisi.
IV. Membaca Angin ke Arah Demokrat
Siapa pun kandidat yang terpilih dari Demokrat akan memiliki peluang yang lebih besar daripada kandidat yang terpilih dari Republik. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan :
1. Jumlah anggota Demokrat yang terdaftar (memiliki kartu anggota) lebih banyak dibanding Republik. Jumlah anggota Demokrat mencapai 72 juta orang dibanding Republik yang hanya 55 juta orang[15]
2. Setelah kemenangan pada pemilu Senat 2006, dukungan terhadap Demokrat memang menurun karena kurang bisa melakukan perubahan signifikan dalam Senat. Akan tetapi, Demokrat tetap populer dengan perbandingan 45 % dan Republik 35 %[16]
3. Kebijakan dan hasil yang dicapai Bush turut melemahkan kedudukan Republik. Keadaan ekonomi yang memburuk ke arah resesi membuat rakyat AS lebih memilih kebijakan ekonomi yang lebih ke arah welfare economy yang dianut oleh Demokrat. Adapun kebijakan ekonomi Bush yang baru-baru ini memberi tambahan kredit lunak kepada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah masih diragukan efektivitasnya oleh banyak pihak.
4. Kebijakan luar negeri AS mendapat tantangan dari banyak pihak, seperti posisi yang berlawanan dengan sebagian besar negara dalam UNFCCC 2007 di Bali memperkuat dorongan dari domestik akan kecenderungan memilih kandidat Demokrat yang secara umum lebih pro-lingkungan. Masyarakat AS sudah mengalami stagnasi dengan Bush dan sangat berharap ada perubahan pada kepemimpinan 2009.
5. Kelompok independen lebih memilih Demokrat daripada Republik. Menurut survei Newsday pada 9 Januari 2008 menunjukkan bahwa 6 dari 10 pemilih independen lebih menyukai Demokrat.
Hal di atas juga diperkuat survei dari Real Clear Politics (RCP) pada awal Januari 2008 yang melakukan head to head polls antara masing-masing kandidat Demokrat (Hillary, Obama, Edwards) dan masing-masing kandidat Republik (McCain, Giuliani, Romney, Huckabee, Thompson). Dalam survei itu terlihat semua kandidat Demokrat selalu menang ketika dihadapkan dengan masing-masing kandidat Republik kecuali McCain. Itu pun McCain hanya unggul tipis di bawah 5 %. Tidak dapat dipungkiri bahwa peluang Demokrat untuk menang pada 2008 lebih besar daripada Republik
V. Menghitung Kepentingan Diplomasi Indonesia
Kebijakan luar negeri ternyata tidak menjadi prioritas perdebatan dan kampanye. Bahkan, kebijakan luar negeri yang menjadi bahan perdebatan utama pun hanya berkisar pada masalah Irak, terorisme, dan imigran.
Ditinjau dari segi geografis hanya Hillary, Obama, Edwards, dan Romney yang menjelaskan tentang perlunya membangun kerjasama dan aliansi dengan negara-negara di Asia Pasifik. Hanya Edwards yang menyebutkan ‘Indonesia’ dalam platform luar negerinya sebagai negara yang perlu dianggap penting untuk melawan terorisme dan mengubah image dunia Islam tentang AS.
Visi kebijakan luar negeri masing-masing kandidat agaknya relevan dengan platform klasik dari masing-masing partai. Demokrat dalam kebijakan luar negerinya bersifat lebih sosial dalam ekonomi dan agresif interventif dalam politik. Sebaliknya, Republik lebih liberal dalam ekonomi dan lebih sosial dalam intervensi politk.
Sisi-sisi positif kebijakan luar negeri Demokrat yang mungkin bisa sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia adalah :
1. Seluruh kandidat Demokrat setuju untuk lebih meningkatkan perhatian terhadap upaya mengatasi global warming[17]. Kemenangan Demokrat akan memberi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk bekerja sama dalam isu lingkungan, seperti bantuan dana dan teknis dalam mengatasi deforestasi maupun kesamaan perspektif dalam CDM. Apalagi selama ini Indonesia memiliki daya tawar dan peran penting dalam mengatasi pemanasan global, seperti dengan menjadi tuan rumah UNFCC dan memelopori F-11
2. Kandidat Demokrat menjanjikan keterlibatan yang lebih dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai MDG. Edwards sebagai contoh mengatakan bahwa membantu banyak negara mengatasi kemiskinan adalah bagian dari upaya mengatasi terorisme dan ancaman terhadap AS.
3. Demokrat lebih mengutamakan multilateralisme daripada unilateralisme. Ketiga kandidat utama Demokrat sepakat untuk menarik pasukan AS di Irak dan menggantinya dengan pasukan PBB. Hal ini seirama dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang lebih mengutamakan berdayanya institusi multilateral dalam mengatasi berbagai permasalahan internasional.
4. Ketiga calon Demokrat menginginkan perubahan wajah politik luar negeri dari mengandalkan perang, sanksi, dan konfrontasi menjadi lebih mengutamakan dialog, kerjasama, dan negosiasi. Ini relevan dengan politik luar negeri Indonesia yang mengedepankan dialog dan negosiasi dalam mengatasi setiap permasalahan. Obama sebagai contoh menawarkan upaya dialog dan solusi dua negara secara damai bagi Israel dan Palestina yang sejalan dengan maksud Indonesia.
5. Demokrat relatif lebih toleran dalam masalah imigrasi. Indonesia akan mendapat kesempatan bagus untuk melakukan perlindungan terhadap kasus-kasus yang terkait dengan warga negara Indonesia di AS yang bermasalah.
Akan tetapi, kemenangan Demokrat tidak serta merta selalu membawa keuntungan positif bagi Indonesia. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai terkait kemenangan Demokrat :
1. Demokrat lebih agresif dan intervensionis dalam masalah-masalah yang terkait HAM dan demokrasi. Sebagai contoh sejak memenangi pemilu di Senat, anggota Demokrat sangat aktif mengajukan act terkait permasalhan HAM dan demokrasi di negara lain. Salah satunya adalah Block Burmese JADE (Junta's Anti-Democratic Efforts) Act of 2007 yang diusulkan Tom Lantos dari Demokrat.
2. Dalam ekonomi internasional Demokrat lebih protektif dan mengutamakan terlindunginya kesejahteraan masyarakat AS terlebih dahulu daripada terlibat dalam perdagangan bebas. Hillary misalnya berulang kali mengutamakan peningkatan kualitas dan teknologi produk AS, Obama bermaksud menambah proteksi dan subsidi terhadap usaha kecil, dan Edwards meningkatkan standar keamanan dan kesehatan produk impor.
Sementara itu, sisi positif dari kemenangan Republik terlihat pada :
1. Republik lebih mendukung perdagangan bebas dan melonggarkan proteksi ekonomi. Hal ini bisa dimanfaatkan diplomasi perdagangan untuk mempromosikan dan meningkatkan ekspor produk Indonesia ke AS.
2. Intervensi terhadap masalah domestik negara lain terkait masalah HAM, demokrasi, dan kebebasan memang ada, tetapi tidak terlalu seintensif jika kepemimpinan dikuasai Demokrat. Usulan Senat terkait pemberian sanksi, ancaman, dan himbauan kepada negara lain yang bermasalah dalam HAM, demokrasi, dan kebebasan lebih banyak diusulkan oleh anggota Senat dari Demokrat.
3. Kerjasama militer, perluasan aliansi, dan penambahan pangkalan militer lebih menjadi prioritas daripada kerjasama ekonomi maupun sosial. Di satu sisi ini adalah peluang bagi diplomasi militer Indonesia. Akan tetapi, perlu pula dikaji lebih mendalam apakah kerjasama ini sejalan atau bertentangan dengan politik luar negeri bebas aktif.
Sedangkan sisi negatif dari kemenangan Republik dalam pemilihan presiden akan terlihat dalam hal :
1. Prioritas kebijakan luar negeri yang berbasis pada pendekatan sanksi dan konfrontasi akan lebih menyulitkan diplomasi Indonesia yang mengutamakan dialog.
2. Kecuali Thompson, tidak ada satu pun kandidat yang menyetujui keterlibatan lebih AS dalam mengatasi global warming.
3. Republik kurang memiliki pemikiran dan aksi kontributif dalam mengatasi permasalahan ekonomi dan kemiskinan dunia. Sebagai contoh, pada saat KTT G-8 tahun 2007 di Jerman, pemerintahan Bush semula sangat menghindari pembahasan mengenai penambahan bantuan kepada negara-negara Afrika
4. Sikap Republik yang cenderung kepada unilateralisme dan mengabaikan peran institusi multilateral akan memberi tantangan lebih bagi diplomasi Indonesia yang menjadikan multilateralisme sebagai jalan penting untuk mencapai pemecahan atas berbagai konflik secara adil dan baik.
VI. Variasi dan Kejelian Strategi Diplomasi
Satu fakta yang mungkin luput dari perhatian kita adalah sehari setelah Kaukus Iowa berbagai media massa nasional, lembaga studi, ormas, partai, dan tokoh politik di Indonesia menyampaikan pujian, harapan, dan bahkan do’a kepada Obama. Harian Pikiran Rakyat menyebutkan Obama adalah figur pemimpin dunia yang ideal. Ahmad Syafi’i Ma’arif di harian Republika menyebut kemenangan Obama adalah kebangkitan ‘politik alternatif’ dunia.
Gatra edisi 16 Januari 2008 juga menampilkan judul menarik “Dampak Obama terhadap Indonesia”, meski isi artikel itu memberi gambaran kabur dan jauh dari kajian mendalam. Tampaknya publik Indonesia menaruh simpati yang besar kepada latar belakang Obama yang pernah tinggal di Indonesia dan berayahkan orang Islam yang diharapkan akan memiliki pandangan dan kebijakan positif terhadap Indonesia.
Ada pula beberapa opini mengharapkan kemenangan kandidat Demokrat daripada Republik. Sebagian rakyat Indonesia tampaknya masih memiliki persepsi yang sangat negatif terhadap kebijakan Bush yang berlebihan dalam mengatasi terorisme.
Akan tetapi, diplomasi mau tidak mau harus lebih kompleks, fleksibel, kreatif, dan berkesinambungan dibanding opini umum yang berkembang dalam ranah domestik Indonesia. Kemenangan dari Demokrat atau Republik memiliki serangkaian wajah positif dan negatif yang harus diantisipasi dengan bijak dan hati-hati.
Dalam melihat kemungkinan kemenangan Demokrat, sebaiknya diplomasi diarahkan dalam hal :
1. Indonesia harus siap menghadapi intervensi atas beberapa masalah, seperti Papua, Maluku, Aceh, dan Timor Leste yang memang sering disuarakan oleh tokoh Demokrat, seperti Eni Faleomavaega yang selalu intens mengamati perkembangan Papua. Pembangunan jaringan yang kuat dan ‘pengelolaan’ yang berkesinambungan terhadap tokoh-tokoh AS yang kritis dan mendukung separatisme dan isu-isu sensitif haruslah terus dilanjutkan
2. Dalam masalah perdagangan dan ekonomi, kemenangan Demokrat harus diantisipasi oleh diplomasi perdagangan yang lebih efektif dalam menghadapi hambatan non tarif yang akan lebih kompleks dan ketat daripada saat ini.
3. Kesamaan persepsi dalam masalah lingkungan, pemanasan global, dan kemiskinan bisa dimanfaatkan Indonesia untuk menjalin kerjasama yang lebih baik dan mengambil inisiatif penting Indonesia utamanya dalam membangun kerjasama yang intens dalam peningkatan capacity building untuk mencapai target MDG.
4. Keinginan kandiddat Demokrat untuk mengubah wajah AS menjadi lebih ‘ramah’ dapat dimanfaatkan dengan menginisiasi dialog lintas budaya, agama, sosial, pendidikan, dan politik yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Sementara itu, kemenangan kandidat dari Republik harus diantisipasi dengan diplomasi yang :
1. meningkatkan kerjasama dalam beberapa item komoditi yang memungkinkan untuk dilakukan perdagangan bebas. Kebijakan ekonomi Republik yang ‘lebih longgar’ harus dimanfaatkan optimal untuk mendorong masuknya produk Indonesia ke AS
2. meskipun berbeda pandangan dalam multilateralisme, dialog, dan isu keamanan non-tradisional, Indonesia harus tetap menunjukkan sebagai negara penting bagi AS. Aset sebagai Islam moderat, negara demokrasi, negara penting di ASEAN dan lembaga multilateral lain serta kestabilan politik domestik harus terus dikedepankan sesuai konteks dan momentum. Indonesia perlu melakukan pendekatan kepada AS terkait kegagalan AS selama pemerintahan Republik (Presiden Bush) dalam membangun citra positif di mata masyarakat Indonesia.
Adalah penting bagi diplomasi untuk memahami dinamika dan konstelasi politik AS sebagai bahan untuk merenung, berpikir, bertindak, dan pada akhirnya merumuskan aksi demi kepentingan politik luar negeri bebas aktif. Kemenangan dari satu pihak, bukan berarti kita mengambil jarak diplomasi dengan AS dan menganggap AS sebagai musuh besar. Demikian pula sebaliknya.
Kalah atau menangnya kandidat dari masing-masing partai akan memberi keuntungan maupun kerugian yang nisbi bagi Indonesia. Jauh lebih penting adalah bagaimana diplomasi Indonesia selalu mampu mengambil peluang dan di saat bersamaan antisipatif terhadap segala kondisi.
[1] Tahun terakhir di mana tidak ada incumbent baik Presiden maupun Wakil Presiden yang maju dalam konvensi presiden
[2] CPF Luhulima, dalam ”Terorisme dalam Politik Luar Negeri Amerika Serikat”, tahun 2005 hal 2
[3] Obama mengkritik pernyataan Hillary bahwa perjuangan Marthin Luther King Jr tidak akan berhasil tanpa kebijakan yang diambil Presiden Lindon Jhonson
[4] Salah satu yang dianggap sebagai ‘jasa’ Hillary adalah usulan tentang the Health Care Safety Net Act pada 2007
[5] Menurut Black America Web, 4 Januari 2008
[6] Menurut survey Harvard pada awal Januari 2008, Obama memperoleh suara 35 % dari pemilih berusia di antara 18-24 tahund an terpelajar disbanding Hillary yang hanya memperoleh suara sebanyak 28 %.
[7] Meskipun Edwards mengklaim South Carolina adalah tanah kelahirannya, tetapi justru Obama dan Hillary yang bersaing ketat dalam perebutan suara. Hal ini dikarenakan lebih dari 30 % (menurut data tahun 2006), penduduk South Carolina adalah kulit hitam. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kulit hitam lebih memilih Hillary atau Obama daripada Edwards. Dalam survey yang dilakukan Real Clear Politics pada 17 januari 2008, Hillary dan Obama bersaing pada kisaran 35 %, sementara Edwards terpuruk pada angka 20%.
[8] Dalam survey ini, kebijakan luar negeri hanya menduduki peringkat keempat kebijakan setelah ekonomi, imigrasi, dan homeland security.
[9] Pada 5 Februari 2008 sebanyak sekitar 20 states akan melakukan primary atau pun caucus termasuk state yang memiliki komposisi delegasi yang besar, seperti New York, Texas, dan California
[10] Dalam banyak media massa Giuliani dianggap beraliran liberal di antaranya karena setuju pada perkawinan sesama jenis (hal yang sangat ditentang oleh Kristen) dan menolak pembatasan terhadap masuknya imigran
[11] Reagen, Bob Dole, dan George HW Bush pernah mengalami kekalahan pada konvensi Republik periode sebelumnya dan kemudian pada periode selanjutnya meraih kemenangan telak.
[12] Sampai saat ini pun di South Carolina terdapat pusat pelatihan wajib militer yang setiap tahun menampung 40.000 orang.
[13] Glen Dean dalam tulisan “The Definition of Conservatives”, 13 April 2007 mengatakan bahwa kelompok dalam Partai Republik yang berhaluan konservatif mengutamakan tetap terjaganya nilai-nilai moral, agama, dan nasionalisme dalam politik AS.
[14] Di berbagai media massa cetak dan televisi sering muncul berbagai wawancara dengan korban maupun aktor penyelamat, seperti polisi, petugas medis, dan pemadam kebakaran yang tidak melihat adanya jasa signifikan yang telah dibuat Giuliani. Hal itulah yang membuat hilangnya simpati public kepada Giuliani
[15] Menurut Neuhart, P. dalam artikel “Why politics is fun from catbirds' seats. USA Today' pada 11 Juli 2007
[16] Menurut Survei Los Angeles Times 30 Oktober 2007
[17] Obama menjanjikan penurunan emisi sampai 50 % pada 2050 dan Hillary menjanjikan keterlibatan AS yang lebih besar dalam berbagai konvensi dan perjanjian terkait pengurangan emisi.
0 komentar:
Post a Comment